Rupiah Melemah ke Rp17.853 per Dolar AS Pagi Ini, Apa Penyebabnya?
Rupiah melemah dan sempat menyentuh Rp17.853 per dolar AS pada Selasa pagi. Memanasnya konflik AS-Iran dan lonjakan harga minyak dunia menjadi salah satu tekanan utama bagi mata uang Garuda.
Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (18/8/2026) pagi. Mata uang Garuda sempat bergerak hingga level Rp17.853 per dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip IDN Times, rupiah hingga pukul 09.05 WIB berada di level Rp17.850 per dolar AS, melemah 52 poin atau sekitar 0,29 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.798 per dolar AS. Sepanjang perdagangan pagi, rupiah bergerak pada kisaran Rp17.844 hingga Rp17.853 per dolar AS.
Konflik AS-Iran Jadi Tekanan Utama
Salah satu faktor yang membebani rupiah adalah kembali meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah setelah prospek perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran memudar.
Pengamat pasar uang Lukman Leong menilai meningkatnya ketegangan tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia sehingga memberikan tekanan terhadap rupiah. Ia memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak melemah dalam perdagangan hari ini.
Kondisi geopolitik juga mendorong harga minyak dunia kembali menanjak. Reuters melaporkan harga minyak Brent naik ke sekitar US$91,49 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$85,25 per barel pada Selasa pagi. Kenaikan terjadi setelah harapan tercapainya kesepakatan damai AS-Iran semakin berkurang dan muncul kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi, terutama melalui Selat Hormuz.
Lonjakan harga minyak menjadi perhatian pasar karena Indonesia masih memiliki kebutuhan impor minyak. Kenaikan harga energi global dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing dan menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Selain itu, pasar keuangan global juga menghadapi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Reuters mencatat imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik hingga sekitar 4,724 persen, sementara indeks dolar bergerak sedikit menguat. Situasi tersebut turut meningkatkan kehati-hatian investor terhadap aset berisiko.
Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp17.750 hingga Rp17.850 per dolar AS. Namun, perkembangan konflik di Timur Tengah dan harga minyak dunia masih menjadi faktor penting yang perlu dicermati pelaku pasar.