Medan
BREAKING Headline
Lifestyle EDITORIAL

Masyarakat Makin Sering Konsumsi Makanan Instan, Ahli Gizi Soroti Dampaknya

Publish: 28 May 2026 0 komentar

Konsumsi makanan instan meningkat karena praktis dan murah. Ahli gizi mengingatkan risiko gula, garam, lemak berlebih, serta pentingnya pola makan seimbang.

Masyarakat Makin Sering Konsumsi Makanan Instan, Ahli Gizi Soroti Dampaknya
Komentar

Konsumsi makanan instan makin menjadi bagian dari pola makan masyarakat modern. Faktor harga, rasa, kepraktisan, dan kemudahan penyajian membuat produk seperti mi instan, makanan beku, camilan kemasan, dan minuman siap saji semakin mudah ditemukan dalam aktivitas harian.

Data World Instant Noodles Association menunjukkan Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam permintaan mi instan pada 2024, dengan total 14,68 miliar porsi. Angka ini meningkat dibandingkan 2023 yang mencapai 14,54 miliar porsi. Data tersebut menggambarkan kuatnya konsumsi makanan praktis di Indonesia, terutama pada produk yang cepat disiapkan dan mudah dijangkau.

Ahli gizi menilai konsumsi makanan instan tidak selalu menjadi masalah jika dilakukan sesekali dan tetap disertai makanan bergizi seimbang. Namun, konsumsi yang terlalu sering dapat meningkatkan risiko kelebihan asupan gula, garam, dan lemak. Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa perkembangan makanan instan ikut mengubah pola makan masyarakat ke arah makanan tinggi lemak, tinggi gula, tinggi garam, dan rendah serat. Pola tersebut berkaitan dengan peningkatan risiko kegemukan dan penyakit tidak menular.

Kemenkes juga menetapkan batas konsumsi harian gula, garam, dan lemak. Dalam sehari, konsumsi gula sebaiknya tidak lebih dari 50 gram atau sekitar 4 sendok makan, garam tidak lebih dari 2.000 miligram natrium atau sekitar 1 sendok teh, dan lemak tidak lebih dari 67 gram atau sekitar 5 sendok makan minyak. Batas ini penting karena banyak makanan instan dan makanan kemasan memiliki kandungan gula, garam, atau lemak yang cukup tinggi dalam satu kali penyajian.

Kajian ilmiah juga memperkuat perhatian tersebut. Tinjauan yang diterbitkan The BMJ pada 2024 menemukan bahwa paparan makanan ultra-proses yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai dampak kesehatan, terutama gangguan kardiometabolik, gangguan kesehatan mental umum, dan kematian. Meski begitu, peneliti menekankan perlunya kebijakan kesehatan masyarakat dan penelitian lanjutan untuk mengurangi paparan makanan ultra-proses secara lebih efektif.

Karena itu, masyarakat perlu lebih cermat membaca label informasi nilai gizi, membatasi frekuensi konsumsi, dan menambahkan bahan segar seperti telur, sayur, tahu, tempe, atau sumber protein lain saat mengonsumsi makanan instan. Langkah sederhana ini dapat membantu menekan risiko gizi tidak seimbang tanpa harus langsung menghilangkan makanan instan sepenuhnya dari pola makan sehari-hari.

Sebelumnya
Tidak ada artikel sebelumnya
Berikutnya
Tidak ada artikel berikutnya
Komentar
Diskusi santun. Hindari SARA dan ujaran kebencian.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.