Medan
BREAKING Headline
Nasional EDITORIAL

Nelayan Keluhkan Cuaca Tak Menentu, Hasil Tangkapan Turun dalam Beberapa Pekan

Publish: 29 May 2026 0 komentar

Cuaca laut yang tidak menentu membuat nelayan kecil mengurangi waktu melaut. Gelombang tinggi, angin kencang, dan biaya operasional membuat hasil tangkapan turun serta pendapatan keluarga pesisir ikut tertekan.

Nelayan Keluhkan Cuaca Tak Menentu, Hasil Tangkapan Turun dalam Beberapa Pekan
Komentar

Cuaca laut yang berubah cepat dalam beberapa pekan terakhir membuat aktivitas nelayan kecil semakin sulit. Angin kencang, hujan mendadak, dan gelombang tinggi membuat sebagian nelayan mengurangi waktu melaut. Akibatnya, hasil tangkapan ikut menurun dan pendapatan harian keluarga nelayan ikut tertekan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG masih mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi untuk sejumlah wilayah perairan Indonesia. Pada periode 29 Mei sampai 1 Juni 2026, BMKG mencatat 53 perairan berada pada kategori gelombang tinggi 2,5 sampai 4 meter dan 88 perairan berada pada kategori sedang 1,25 sampai 2,5 meter. BMKG juga mencatat pola angin di wilayah Indonesia bagian utara bergerak dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 8 sampai 30 knot, sedangkan wilayah selatan bergerak dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 6 sampai 20 knot. Kondisi ini meningkatkan risiko bagi perahu kecil dan kapal nelayan tradisional.

Tekanan tersebut bukan hanya persoalan keselamatan di laut. Saat cuaca tidak menentu, nelayan harus memperhitungkan biaya bahan bakar, bekal melaut, es, dan risiko pulang tanpa tangkapan memadai. Jika gelombang naik atau angin menguat di tengah perjalanan, nelayan sering memilih kembali lebih cepat. Keputusan itu mengurangi peluang memperoleh ikan, tetapi tetap menyisakan biaya operasional.

Keluhan serupa muncul di sejumlah daerah pesisir. Di Pantai Purus, Padang, misalnya, nelayan dilaporkan mengalami penurunan hasil tangkapan hingga 35 persen akibat cuaca buruk dan faktor terang bulan. Penurunan hasil tangkapan langsung berdampak pada pendapatan harian karena sebagian besar nelayan menggantungkan pemasukan dari hasil lelang atau penjualan ikan segar.

Portal Data Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat Nilai Tukar Nelayan nasional berada pada angka 109,05. Angka di atas 100 menunjukkan daya tukar nelayan masih positif, tetapi tekanan cuaca tetap dapat mengganggu pendapatan nelayan kecil karena pemasukan mereka sangat bergantung pada jumlah hari melaut dan volume tangkapan.

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan sebelumnya juga menilai cuaca ekstrem tidak hanya membahayakan keselamatan nelayan kecil, tetapi juga dapat menurunkan produksi perikanan tangkap dan memperberat beban ekonomi rumah tangga pesisir.

Dalam situasi ini, nelayan membutuhkan informasi cuaca maritim yang mudah diakses, bantuan keselamatan melaut, serta skema perlindungan pendapatan ketika mereka tidak bisa melaut. Tanpa dukungan tersebut, cuaca tak menentu akan terus menjadi ancaman langsung bagi dapur keluarga nelayan.

Sebelumnya
Tidak ada artikel sebelumnya
Berikutnya
Tidak ada artikel berikutnya
Komentar
Diskusi santun. Hindari SARA dan ujaran kebencian.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.