Petani Sawit Hadapi Biaya Produksi Tinggi, Pendapatan Keluarga Ikut Tertekan
Petani sawit menghadapi tekanan akibat biaya pupuk, perawatan, panen, dan transportasi yang tinggi. Saat harga TBS melemah, pendapatan keluarga ikut tergerus meski produksi sawit nasional masih meningkat.
Petani sawit kembali menghadapi tekanan ekonomi akibat biaya produksi yang belum sepenuhnya terkendali. Beban pupuk, perawatan kebun, ongkos panen, dan transportasi membuat pendapatan bersih keluarga petani semakin tipis, terutama ketika harga tandan buah segar atau TBS bergerak turun.
Tekanan ini terlihat dari data Badan Pusat Statistik. Pada April 2026, Nilai Tukar Petani nasional turun 0,09 persen menjadi 125,24. BPS mencatat harga yang diterima petani hanya naik 0,16 persen, sedangkan harga yang dibayar petani naik lebih tinggi, yaitu 0,24 persen. Nilai Tukar Usaha Pertanian juga turun 0,47 persen menjadi 130,30. Kondisi ini menunjukkan bahwa biaya yang harus dikeluarkan petani bergerak lebih cepat dibanding kenaikan penerimaan mereka.
Di tingkat lapangan, tekanan tersebut terasa lebih konkret. Di Bengkulu Selatan, harga TBS di tingkat RAM dilaporkan turun dari sekitar Rp2.800 menjadi Rp2.300 per kilogram. Sejumlah petani menyebut hasil penjualan sawit tidak lagi cukup untuk menutup biaya operasional kebun, mulai dari pembelian pupuk, perawatan tanaman, ongkos panen, hingga transportasi.
Kondisi ini kontras dengan kinerja makro industri sawit nasional. Kementerian Pertanian mencatat produksi CPO Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 51,6 juta ton, naik sekitar 7,5 persen dibanding 2024. Ekspor sawit juga tumbuh dari 29,5 juta ton menjadi 32,3 juta ton. Kenaikan produksi itu antara lain terjadi karena harga sawit sebelumnya cukup tinggi sehingga petani lebih intensif merawat kebun.
Pemerintah sebenarnya telah menurunkan Harga Eceran Tertinggi pupuk bersubsidi sebesar 20 persen mulai 22 Oktober 2025. Urea turun dari Rp2.250 menjadi Rp1.800 per kilogram, sedangkan NPK turun dari Rp2.300 menjadi Rp1.840 per kilogram. Kebijakan ini bertujuan menekan beban produksi petani.
Namun, penurunan harga pupuk belum otomatis menghapus tekanan di tingkat rumah tangga petani sawit. Petani masih menghadapi biaya perawatan rutin, tenaga kerja panen, angkutan, serta ketergantungan pada harga beli pabrik dan pengepul. Jika harga TBS melemah, keluarga petani harus menyesuaikan belanja harian, menunda perawatan kebun, atau mengurangi penggunaan input produksi. Pada titik ini, persoalan sawit bukan hanya soal produksi nasional, tetapi juga soal daya tahan ekonomi keluarga petani di desa.