Medan
BREAKING Headline
Nasional EDITORIAL

Qadha Puasa Ramadan atau Puasa Syawal Dulu? Ini yang Sebaiknya Didahulukan

Publish: 22 Mar 2026 0 komentar

Qadha puasa Ramadan atau puasa Syawal dulu sering menjadi pertanyaan setelah Idulfitri. Simak hukum, dalil, dan pendapat ulama tentang mana yang sebaiknya didahulukan.

Qadha Puasa Ramadan atau Puasa Syawal Dulu? Ini yang Sebaiknya Didahulukan
Komentar

Pertanyaan mengenai qadha puasa Ramadan atau puasa Syawal lebih dulu kembali menjadi perhatian banyak umat Islam setelah Idulfitri. Tidak sedikit orang yang masih memiliki utang puasa Ramadan karena sakit, safar, haid, atau uzur syar’i lainnya, tetapi di saat yang sama ingin mengejar keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal. Lalu, mana yang sebaiknya didahulukan?

Secara umum, qadha puasa Ramadan lebih utama didahulukan. Alasannya sederhana namun mendasar: qadha puasa Ramadan adalah kewajiban, sedangkan puasa Syawal merupakan ibadah sunnah. Dalam kaidah fikih, amalan wajib lebih didahulukan daripada amalan sunnah ketika keduanya bertemu dalam satu kesempatan.

Dalil Qadha Puasa Ramadan dalam Al-Qur’an

Landasan qadha puasa Ramadan terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 184-185. Dalam ayat tersebut, Allah SWT menjelaskan bahwa orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan dan tidak berpuasa pada bulan Ramadan wajib menggantinya di hari lain.

QS Al-Baqarah: 184

أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Latin:
Ayyāman ma‘dūdāt, fa man kāna minkum marīḍan aw ‘alā safarin fa‘iddatun min ayyāmin ukhar.

Artinya:
“Maka siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan, maka wajib mengganti sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”

Ayat ini menjadi dasar kuat bahwa qadha puasa Ramadan merupakan tanggungan yang harus ditunaikan. Karena itu, banyak ulama menilai qadha lebih layak diprioritaskan daripada puasa sunnah Syawal.

Dalil Hadis Tentang Puasa Syawal

Di sisi lain, puasa Syawal juga memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Latin:
Man ṣāma Ramaḍāna tsumma atba‘ahu sittan min Syawwālin kāna kaṣiyāmid dahr.

Artinya:
“Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian mengikutinya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.”
(HR Muslim)

Hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan puasa Syawal. Inilah sebabnya banyak orang ingin segera menjalankannya setelah Hari Raya Idulfitri.

Mana yang Sebaiknya Didahulukan?

Mayoritas penjelasan ulama menempatkan qadha puasa Ramadan sebagai prioritas. Sebab, qadha berkaitan dengan kewajiban yang belum tertunaikan. Sementara itu, puasa Syawal adalah amalan sunnah yang pahalanya besar, tetapi tidak menggugurkan kewajiban qadha.

Dari sisi kehati-hatian, mendahulukan qadha puasa Ramadan adalah pilihan yang paling aman. Setelah itu, bila waktu di bulan Syawal masih tersedia, puasa enam hari Syawal bisa dilanjutkan.

Ada Pendapat yang Membolehkan Puasa Syawal Lebih Dulu

Meski qadha lebih utama didahulukan, sebagian ulama memberi kelonggaran bagi orang yang memiliki uzur syar’i. Alasannya, waktu qadha puasa Ramadan masih panjang hingga sebelum Ramadan berikutnya, sedangkan puasa Syawal hanya bisa dikerjakan di bulan Syawal.

Karena itu, ada pandangan yang membolehkan seseorang mendahulukan puasa Syawal lebih dulu, terutama bila khawatir keutamaannya terlewat. Namun, kelonggaran ini tidak menghapus kewajiban qadha. Utang puasa Ramadan tetap harus dibayar.

Kesimpulan

Bagi Muslim yang masih memiliki utang puasa Ramadan, qadha puasa sebaiknya didahulukan karena hukumnya wajib. Setelah kewajiban itu selesai, puasa Syawal bisa dikerjakan selama masih berada di bulan Syawal. Adapun bagi yang memiliki uzur syar’i dan khawatir tidak sempat mengejar puasa Syawal, terdapat pendapat yang memberi ruang untuk mendahulukannya, meski qadha lebih dulu tetap dinilai lebih utama.

Baca:
Puasa Syawal Berapa Hari? Niat dan Tata Caranya

Sebelumnya
Tidak ada artikel sebelumnya
Berikutnya
Tidak ada artikel berikutnya
Komentar
Diskusi santun. Hindari SARA dan ujaran kebencian.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.