Biaya Produksi Naik, Pelaku Usaha Kecil Cari Cara Bertahan
Kenaikan bahan baku, kemasan, dan distribusi menekan usaha kecil. Pelaku UMKM mencari cara bertahan dengan efisiensi, pemasok alternatif, dan dukungan pembiayaan.
Kenaikan biaya produksi kembali menjadi tekanan bagi pelaku usaha kecil. Harga bahan baku, ongkos kemasan, energi, dan biaya distribusi membuat sebagian pelaku usaha harus menghitung ulang strategi agar tetap bisa berjualan tanpa kehilangan pelanggan.
Tekanan biaya terlihat dari data Badan Pusat Statistik. Indeks Harga Produsen umum pada triwulan IV-2025 naik 0,76 persen dibanding triwulan sebelumnya dan naik 2,80 persen secara tahunan. Kenaikan juga terjadi pada sektor industri pengolahan sebesar 2,80 persen secara tahunan, serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 5,27 persen. Kondisi ini memberi sinyal bahwa beban produksi masih bergerak naik di beberapa sektor utama.
Bank Indonesia juga mencatat tekanan harga belum sepenuhnya reda. Inflasi tahunan pada April 2026 berada di level 2,42 persen. Namun, Survei Penjualan Eceran April 2026 memperkirakan tekanan inflasi pada Juni dan September 2026 meningkat, salah satunya karena kenaikan harga bahan baku.
Beban paling terasa dialami pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku dan kemasan. Kementerian UMKM menyebut kenaikan harga plastik mencapai rata-rata 40 sampai 60 persen. Kenaikan itu menekan margin keuntungan dan omzet UMKM, terutama pada usaha makanan dan minuman yang masih banyak memakai kemasan plastik. Banyak pelaku usaha memilih menahan harga jual agar pembeli tidak beralih, meski keuntungan menjadi lebih tipis.
Untuk bertahan, pelaku usaha kecil mulai menempuh beberapa cara. Mereka mencari pemasok alternatif, mengurangi pemborosan bahan baku, menyesuaikan ukuran kemasan, memperbaiki pencatatan biaya, dan menunda belanja yang tidak mendesak. Sebagian pelaku usaha juga mulai memanfaatkan kanal digital untuk memperluas pasar, tetapi mereka tetap menghadapi biaya layanan dan logistik yang dapat mengganggu arus kas.
Pemerintah mulai menyiapkan dukungan pembiayaan. Kementerian UMKM mencatat realisasi Kredit Usaha Rakyat hingga 19 Agustus 2025 mencapai Rp169,2 triliun. Dari jumlah itu, Rp101,9 triliun atau 60,3 persen disalurkan ke sektor produksi. Akses pembiayaan ini dinilai penting agar usaha kecil bisa menjaga produksi, membeli bahan baku, dan mempertahankan tenaga kerja.
Ekonom juga menilai stabilisasi biaya produksi perlu menjadi prioritas. Dukungan pada energi, bahan baku, dan rantai pasok dapat membantu UMKM bertahan saat tekanan global dan logistik masih berlanjut. Tanpa perlindungan yang cukup, tekanan biaya dapat memperlemah daya saing usaha kecil di pasar domestik.