Medan
BREAKING Headline
Pendidikan EDITORIAL

Guru Hadapi Tantangan Literasi Digital, Sekolah Mulai Ubah Pola Pembelajaran

Publish: 23 May 2026 0 komentar

Guru dituntut menguasai literasi digital saat sekolah mulai menerapkan pembelajaran interaktif berbasis teknologi.

Guru Hadapi Tantangan Literasi Digital, Sekolah Mulai Ubah Pola Pembelajaran
Komentar

Perubahan teknologi mendorong sekolah menyesuaikan pola pembelajaran. Guru kini tidak hanya dituntut menguasai materi ajar, tetapi juga mampu memakai perangkat digital, memilah informasi, mengelola kelas berbasis teknologi, dan membimbing siswa agar aman di ruang digital.

Tantangan itu muncul seiring meningkatnya kebutuhan literasi digital di dunia pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menilai penguatan literasi digital perlu mencakup kecakapan menggunakan teknologi, pemahaman terhadap kecerdasan buatan, pencegahan hoaks, perundungan daring, serta pembentukan etika digital. Pemerintah juga menempatkan literasi digital sebagai bagian dari kesiapan menghadapi perubahan ekonomi dan teknologi.

Data Indeks Masyarakat Digital Indonesia 2024 menunjukkan kesiapan digital masyarakat masih perlu diperkuat. Skor IMDI nasional tercatat 43,34. Pilar keterampilan digital mencapai 58,25, tetapi pilar pemberdayaan baru 25,68 dan pekerjaan 38,09. Data ini menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi belum selalu diikuti pemanfaatan yang produktif di kehidupan sehari-hari dan dunia kerja.

Di sekolah, kondisi tersebut membuat peran guru semakin kompleks. Guru harus menyiapkan bahan ajar digital, memilih platform yang sesuai, menjaga fokus siswa, dan memastikan teknologi tidak hanya menjadi alat presentasi. Pembelajaran mulai diarahkan menjadi lebih interaktif, visual, dan berbasis aktivitas siswa.

UNESCO mencatat Indonesia telah memanfaatkan platform digital untuk memperluas akses dan meningkatkan mutu pendidikan. Lebih dari tiga juta guru aktif menggunakan platform digital yang dikembangkan pemerintah. Langkah ini menjadi bagian dari transformasi pendidikan melalui program Merdeka Belajar dan ekosistem teknologi pendidikan nasional.

Perubahan pola belajar juga terlihat di SD Negeri 020 Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Kemendikdasmen melaporkan pemanfaatan Super Aplikasi Rumah Pendidikan membantu siswa lebih percaya diri memakai perangkat digital. Sebanyak 155 dari 328 siswa menjadi pengguna aktif fitur Ruang Murid. Sekolah tersebut juga melibatkan 16 guru untuk mengeksplorasi fitur seperti Lab Maya, Buku Digital, Game Interaktif, dan modul karakter.

Kasus itu menunjukkan bahwa transformasi digital tidak cukup dengan penyediaan perangkat. Sekolah perlu membangun pendampingan guru, komunitas belajar, dan pelatihan teknis yang berkelanjutan. Dengan cara itu, teknologi dapat mendukung pembelajaran yang lebih adaptif, bukan sekadar mengganti papan tulis dengan layar.

Sebelumnya
Tidak ada artikel sebelumnya
Berikutnya
Tidak ada artikel berikutnya
Komentar
Diskusi santun. Hindari SARA dan ujaran kebencian.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.